Search This Blog

Tuesday, February 18, 2014

Hidup Seorang Pemimpi


Selama 1 tahun belakangan ini, saya merasa cukup bahagia dan merasa lengkap walaupun masih banyak impian yang belum tercapai. Sebenarnya predikat Pemimpi sudah saya lekatkan pada diri saya semenjak SMA. Waktu itu saya pernah bergabung dengan Tianshi, tau kan? Bekerja sama dengan UNICORE, selama kurang lebih 3 bulan atau berapa bulan ya, saya lupa. Saya dan Rony (I’m gonna tell later) dulu sering hadir di acara Tianshi, saya juga lupa apa namanya tapi seperti seminar, meeting, dan acara tahunan biasanya bertempat di hotel besar. Mungkin bagi sebagian besar orang berpendapat bahwa bisnis jaringan atau MLM atau semacamnya itu menipu. Padahal sebenarnya tidak sama sekali (diluar bisnis yang menipu). Waktu itu meskipun saya tidak sukses tapi saya belajar banyak disana. Dengan leader-leader yang ganteng-ganteng plus cantik dan tentunya punya mobil mewah. Mereka nyata!

Mereka ceritakan perjalanan hidup mereka, dari masa-masa sulit hingga mereka berhasil meraih sukses dan menggenggam impian di tangan mereka. Saya percaya itu. Keajaiban mimpi, kerja keras dan do’a. Tapi sayangnya jalan saya bukan disana. Hanya ada satu hal yang terus melekat di diri saya sampai saat ini. IMPIAN yang kuat. 


Dulu saya diajarkan membuat Dream Book (Buku Impian). Disana kita bebas menuliskan apa yang kita inginkan. Sayang banget buku saya udah ngga tau dimana pasca 2 kali pindah rumah. Tapi kurang lebih begini bentuknya. 

Waktu masih SMA kelas 3, ketika semuanya sibuk bertukar informasi tentang tempat kuliah segala macem, saya malah hanya berangan-angan “Seandainya..” dan semua keinginan saya tuliskan di dream book itu. Salah satunya “Kuliah di LP3I”. Kalimatnya seperti ini “Saya harus kuliah di LP3I setelah lulus SMA” saya juga menempel gambar logo LP3I dan juga tanggalnya.

Dan sekarang? Ya, saya sudah lulus dari LP3I Balikpapan, jurusan Financial Sharia Banking. Saya di wisuda bulan November 2013. Impian kuat saya yang waktu itu saya hanya berandai-andai bisa terwujud. Tidak penting berapa sulitnya saya sewaktu kuliah, Pembuktian adalah kepuasaan tersendiri bagi seorang pemimpi.
 
Setelah lulus SMA, saya pindah ke Balikpapan dan kegiatan menulis tidak saya lanjutkan karena sibuk kuliah. Menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, kemana-mana belum hafal jalan, belum punya banyak teman. Buku impian itu juga sudah ngga saya lanjutkan lagi. Tapi mulai awal tahun 2013 saya mulai lagi tapi bukan buku impian namanya, cuma sekedar tulisan di kertas-kertas ukuran kecil. Judulnya List to Buy/List to Do. Sekarang sudah 2014, itu artinya saya gagal mencapai semua yang saya inginkan. Ngga satupun saya dapatkan di tahun 2013 kecuali umur yang berkurang 1 tahun. Satu hal lagi, satu-satunya yang saya dapatkan dan paling berharga, Kedewasaan dalam bermimpi. Lagi-lagi mimpi ya. Tapi saya yakin buat mereka yang juga pemimpi, bermimpi dan berencana  adalah hal yang indah, akan selalu indah dan tidak akan pernah membuat bosan.

When I meet DREAMER (baca: bukan seorang pemimpi)
Saat itu saya menemani teman saya jalan-jalan di sekitar kota Balikpapan. Mereka bercerita banyak dan merasa senang sekali (dalam hati saya, hey ini hanya Balikpapan!) Saya agak takut sebenarnya beragumen seperti merendahkan kualitas kota ini. Bukan itu maksud saya, saya mungkin adalah pemimpi HD dan penikmat pemandangan luar negeri yang jauh sekali indahnya dengan Balikpapan. *walaupun belum pernah ke luar negeri* -___-“
Saya ngerasa perjalanan kali itu sia-sia. Saya bertemu dengan orang yang salah! Saya nggak bisa membahas keinginan saya karena keinginan mereka begitu jauh dibawah saya. Walaupun pada akhirnya saya nggak bisa nahan buat cerita, mereka hanya diam melongo ngga ada respon. Huh. Akhirnya saya hanya sekedar basa basi. Jawab sekedarnya, ketawa sekedarnya. Garing! Gagal total senang-senang buat hari itu.

Bahkan untuk bilang kalo dulu setiap sore sehabis pulang kerja saya sering duduk sebentar di pantai hanya untuk memandangi langit dan awan-awannya. Ini adalah hal paling menenangkan dan menyenangkan yang pernah saya lakukan dan nggak semua orang bisa memaknai langit, nggak semua orang menganggap itu adalah sesuatu yang sangat indah untuk di pandangi berjam-jam. Tapi itu sama sekali indah untuk saya. Saya hanya diam menyimpan kata-kata dan seluas mata memandang, langit, awan dan lautan, saya senang! Sementara mereka, ngga tau deh apa yang dirasain.



Kesimpulannya, pemimpi itu bukannya merendahkan orang-orang biasa atau meremehkan atau apalah.. Mereka sudah terbiasa dengan high definition dreams, HD planning, jadi ketika dihadapkan dengan sesuatu yang bersifat dasar, mereka merasa kurang tertarik untuk bergabung. Karena merekapun masih belajar dan tidak bisa menggurui karena memang setiap pemimpi itu punya cara mereka sendiri untuk melakukan pembuktian terhadap apa yang mereka tuliskan.

Semoga cerita ini mudah dipahami ya readers. Thanks sudah baca.